Belahan Jiwa
Temaram sinar lampu jalan membelaiku, seolah mengajakku bicara jauh ke sudut hati.
Tak ada bulan ataupun bintang malam ini. Sang langit begitu teduh dan terlihat angkuh.
Dalam diam anganku bertemu dua sosok wajah yang sangat ku kenal. Seorang pria paruh baya, dengan perawakan sedang, berkulit sawo matang dan berambut lurus berwarna abu-abu tiba-tiba datang tanpa ku undang. Senyumnya yang khas selalu membuatku merasa damai. Dalam hitungan detik, anganku semakin berlari menelisik masa beberapa tahun silam. Aku melihat seorang gadis cilik yang cukup terlihat riang dan gembira. Ia sibuk mendengarkan cerita pria yang berada di dekatnya tadi. Pria itu bercerita tentang banyak hal, dengan sabar pula Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan puteri kecilnya tadi. Hampir pada waktu yang bersamaan, sesosok wanita berwajah ayu mendekati mereka sambil membawa sepiring nasi panas berlauk telur, berkecap pula. Dengan sabar Ia menyuapi si anak tadi sembari memberikan satu dua pesan sebagai bekal sebelum berangkat sekolah. Setelah sarapan penuh cinta itu usai dilahap, Ia mengambil sepasang kaus kaki putih dan segera memasangkannya ke kaki mungil sang anak. Terakhir sekali, Ia mengecup kening dan memberikan tangannya untuk kemudian dicium oleh sang anak sebelum berangkat menuntut ilmu di SD Negeri yang letaknya tak jauh dari rumah mereka. Sejurus kemudian, si anak pergi ke sekolah diantar oleh pria tadi.
Tanpa ku sadari, airmata mulai menggenang di kedua sudut mataku. Aku masih dapat mengingat semuanya dengan jelas. Mereka adalah sosok yang selalu membuatku semangat menjalani hidup, merentas semua halang dan rintang. Sosok yang selalu mengajarkan aku dan adikku untuk berjalan di titian yang diridhaiNYA. Sosok yang selalu kami banggakan di tiap diskusi perjalanan hidup kami. Sosok yang teramat tulus mendengar segala curahan airmata dan tawa yang kami bagi. Merekalah harta paling berhargaku, seperti yang selalu mereka katakan--kamilah harta yang mereka punya.
Dalam hening kuutas serangkai doa, untuk mereka belahan jiwaku, Bapak dan Ibuku. Sampaikan pada mereka, Tuhan..Aku sangat menyanyangi mereka. Satu hal lagi, izinkan kami (puteri-puterinya) membawa banyak kebahagiaan yang Engkau titipkan untuk mereka.
PS:Pom, Mom...Mba kangen... T_T